Category Archives: KESEHATAN

Pemeriksaan HIV / AIDS- IMS di Semarang

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh! Tulisan pertama di tahun 2020 akan membahas seputar HIV / AIDS dan IMS (Infeksi Menular Seksual). Kebetulan penulis bekerja di salah satu fasilitas kesehatan dengan layanan pemeriksaan HIV/AIDS serta IMS. Sedikit berbagi yaa..

Sudah tahu belum apa itu HIV/AIDS dan IMS?

HIV/AIDS adalah infeksi virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Jika terinfeksi virus ini, kekebalan tubuh semakin lama semakin berkurang dan jika tidak diobati, lama-kelamaan dapat menjadi AIDS; kondisi dimana terjadi berbagai infeksi akibat kekebalan tubuh yang telah rusak.

HIV sendiri terdiri dari 4 stadium, dimana stadium awal tidak ada gejala yang dirasakan sama sekali dan stadium akhir yaitu AIDS.

Untuk mengetahui apakah Anda menderita infeksi HIV/AIDS, cukup datang ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan VCT atau KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela).

Pemeriksaan VCT GRATIS tanpa dipungut biaya, begitupun jika Anda positif didiagnosa menderita HIV, pengobatan HIV GRATIS dari pemerintah.

Siapa sih yang disarankan melakukan pemeriksaan VCT?

Yang disarankan melakukan pemeriksaan VCT adalah orang yang beresiko mendapat penularan HIV/AIDS atau IMS, antara lain:

  • Menjadi pelanggan pekerja seksual
  • Pekerja Seksual
  • Sering berganti pasangan
  • Pernah tertusuk jarum suntik (tenaga medis)
  • Berganti-ganti jarum suntik (pengguna narkoba)
  • LSL (Lelaki Seks Lelaki / Gay)
  • Donor darah
  • Bayi dari ibu positif HIV
  • Memiliki pasangan beresiko di atas atau sudah terinfeksi HIV

Selain HIV dan AIDS, ada banyak Infeksi Menular Seksual (IMS) tanpa gejala atau dengan gejala yang bisa menginfeksi jika melakukan faktor resiko di atas.

NAH! Jika merasa pernah melakukan resiko-resiko di atas, saudara bisa datang ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan VCT dan pengobatannya. Untuk daerah Semarang, beberapa Puskesmas yang menyediakan pemeriksaan dan layanan pengobatan di antaranya : Puskesmas Halmahera, Puskesmas Poncol, Puskesmas Kedungmundu, Puskesmas Srondol, Puskesmas Gayamsari.

Perlu diketahui bahwa pernah melakukan salah satu faktor resiko di atas dan saat ini tidak merasa gejala sama sekali, masih mungkin berpotensi saudara terkena virus HIV, sebab gejala HIV tidak langsung muncul seketika saat infeksi masuk ke dalam darah. Oleh karena itu, lakukan tes VCT secara berkala jika merasa pernah memiliki faktor resiko di atas.

TIPS pengobatan HIV/AIDS

HIV/AIDS TIDAK BISA DISEMBUHKAN lho! AYO CEGAH PENYAKIT HIV/AIDS dan IMS dengan ABCDE: •Abstinensia: tidak melakukan hubungan sex bagi yang belum menikah –Periksa Tes HIV bagi pasangan yang akan menikah •Be Faithful : setia pada pasangan

Condom     : gunakan pengaman bila melakukan hubungan sex berisiko tertular •Don’t drugs : jangan mengkonsumsi alkohol, narkotika •Edukasi: berobat teratur

Semoga artikel bermanfaat!

Cara Cuci Hidung

Pertama kali mengenal tindakan cuci hidung saat kontrol luka operasi sinusitis tahun 2007. Dokter spesialis THT yang menangani, menganjurkan cuci hidung agar tidak terjadi perlengketan di bekas jahitan operasi sinus.

Tempo hari saya menderita sinusitis akut hingga mengalami vertigo (pusing saat bergerak). Sedikit cerita tentang sinusitis bisa dibaca di sini yaa..

Mencuci hidung tak hanya untuk penderita sinusitis. Justru mencegah adanya infeksi pada hidung bisa dilakukan dengan tindakan CUCI HIDUNG ini.

Berikut beberapa manfaat cuci hidung; [2]

  1. Membersihkan hidung dari debu, polusi dan partikel berbahaya lainnya yang terhirup
  2. Mengencerkan lendir pilek yang kental
  3. Membersihkan mediator penyebab radang sehingga mengurangi gejala alergi/gangguan pada hidung lain
  4. Menjaga kelembapan rongga hidung
  5. Mencegah berkumpulnya bakteri
  6. Memperbaiki fungsi mukosilia (sistem pertahanan) di dalam hidung
  7. Mengurangi pembengkakan akibat radang

Berikut video yang menggambarkan bagaimana cara dan manfaat mencuci hidung.

Step mencuci hidung :

  1. Ambil larutan infus NaCl 0,9% (larutan saline). Lubangi ujung infus dengan cara mencolok (bisa dengan sedotan atau ujung lancip pisau). Jika kesulitan, tuang larutan ke dalam wadah mangkuk atau semacamnya
  2. Siapkan suntikan (spuit) 10cc/20cc/50cc tanpa jarum
  3. Ambil larutan NaCl 0,9% sebanyak 10-20 cc (tergantung ukuran suntikan yang digunakan) melalui lubang yang telah disiapkan/dari wadah
  4. Untuk hidung kanan, miringkan kepala ke kiri, tahan nafas, semprot hidung kanan.
  5. Jika semprotan benar, air NaCl akan keluar di hidung kiri. Jika tidak sengaja tertelan atau terhirup pun tidak berbahaya.
  6. Lakukan tidakan serupa untuk hidung sebelahnya.

This slideshow requires JavaScript.

Tindakan cuci hidung ini bisa dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore), khususnya bila sedang mengalami gejala pilek (bersin-bersin, hidung gatal, meler, hidung tersumbat, dsb). Tanpa gejala pun, cuci hidung bisa rutin dilakukan, sama halnya dengan menggosok gigi.

AYO belajar mencuci hidung, minimal saat berwudhu latihan ber-ISTINSYAQ. Pertanyaan seputar cuci hidung bisa komen di bawah ya..

Sumber :

[1] Kompasiana – Mencuci Hidung Mencegah Penyakit Alergi Hingga Infeksi

[2] Artikel Liputan6.com – Mulai Biasakan Cuci Hidung dan Dapatkan 6 Manfaat ini

 

Sering Pilek, Cuci Hidung!

Mebasuh hidung hingga ke kerongkongan salah satu sunnah yang mungkin masih sering kita lalaikan. Saat berwudhu dengan air biasa, akan terasa perih ketika air melewati lubang hidung (apalagi sampai di kerongkongan). Padahal salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mencuci hidung.

CUCI HIDUNG DALAM KEDOKTERAN

Cuci hidung dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah Nasal Irrigation / irigasi hidung. Dilakukan dengan menggunakan air garam / larutan salin (biasa dengan cairan infus NaCl 0,9 %) dimasukkan melalui hidung kanan lalu dikeluarkan melalui hidung kiri atau sebaliknya.

Mengapa menggunakan larutan garam 0,9%? Sebab larutan garam dengan kadar tersebut memiliki keseimbangan yang sama dengan lapisan dalam kulit, sehingga saat larutan masuk ke dalam hidung tidak terasa perih. Jadi dianjurkan menggunakan larutan yang sesuai takaran ya..

Bersumber dari jurnal kedokteran International Journal of Environmental Research and Public Health, tindakan cuci hidung dapat melembabkan lapisan lendir pada rongga hidung. Mediator penyebab reaksi peradangan atau alergi seperti prostaglandin dan leukotrien juga terbuang selama tindakan ini. Tak heran jika gejala alergi atau gejala flu/pilek dapat berkurang.  Dengan dialirkannya cairan salin di rongga hidung, produksi cairan dan kelembaban rongga hidung mudah terkendali sehingga berkumpulnya kuman bakteri dapat dicegah. Kandungan ion-ion dalam cairan pembersih juga memberi manfaat tersendiri seperti membantu perbaikan sel selama proses radang, mencegah kerusakan sel, menurukan kekentalan dahak, dan mengurangi kematian sel epitel. [2]

ISTINSYAQ

Istinsyaq yaitu menghirup air ke dalam hidung.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ

Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke lubang hidungnya (istinsyaq), lalu ia keluarkan (istintsar).” (HR. Muslim, no. 237)

 

Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْبِغِ الوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً

Sempurnakanlah wudhu, bersihkanlah di antara sela-sela jari-jemari, dan berlebih-lebihanlah dalam melakukan istinsyaq kecuali apabila engkau dalam keadaan berpuasa.(hadis sahih. Lihat: Shahih Abi Dawud, no. 130, Irwa` al-Ghalil, no. 935, Shahah al-Jami’ ash-Shaghar, no. 927, dll.)

Dianjurkan untuk berlebih-lebihan berkumur dan beristinsyaq bagi orang yang tidak berpuasa. (Kifayah al-Akhyar, hal. 43, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)

Imam ash-Shon’ani rahimahullah berkata dalam Subul as-Salam: “Hadis ini adalah dalil yang menganjurkan untuk berlebih-lebihan dalam melakukan istinsyaq bagi orang yang tidak berpuasa. Ia tidak boleh berlebih-lebihan dalam beristinsyaq agar air tidak masuk ke dalam kerongkongannya sehingga dapat membatalkan puasa. Ini menunjukkan bahwa berlebih-lebihan dalam beristinsyaq tidaklah wajib. Sebab, andai saja hukumnya wajib, tentu orang yang berpuasa wajib mengerjakan dan tidak boleh meninggalkannya.” (penjelasan hadis no. 36, dari kitab Bulugh al-Maram)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah bertutur: “Termasuk perkara yang disunahkan ketika berwudhu adalah berlebih-lebihan dalam berkumur dan beristinsyaq. Berlebih-lebihan dalam berkumur berarti menggerakkan air dengan kuat hingga air tersebut dapat mencapai seluruh sisi mulut. Sedangkan berlebih-lebihan dalam beristinsyaq artinya menghirup air dengan nafas dengan kuat. (asy-Syarh al-Mumti’, jilid 1, hal. 171)

Dalam kitab Fiqh as-Sunnah disebutkan: “Disunahkan untuk berlebih-lebihan dalam beristinsyaq. (jilid 1, hal. 56, cet. Dar al-Fath)

Demikian penjelasan singkat seputar berlebih-lebihan dalam beristinsyaq. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk menghidupkan sunah yang satu ini dan sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya. Aamiin. [3]

perlengkapan : spuit (suntikan tanpa jarum. baca : spet) dan larutan steril NaCl 0,9%

buat lubang dengan pisau yang ujungnya tajam untuk menusuk lapisan dalam abu-abu (lihat foto), jadi cairan infus disedot dengan spuit melalui lubang tersebut

Berikut sedikit informasi mengenai cuci hidung agar terhindar dari penyakit..insyaAllah. Semoga bisa menambah pengetahuan kita akan sunnah.

Sangatlah terpuji bila seseorang begitu perhatian terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak kebaikan yang akan ia dapatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala karena perhatiannya terhadap sunah tersebut. Ia akan mendapatkan limpahan pahala, keutamaan, kebaikan dan lain-lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

Barang siapa yang menghidupkan kembali sunah yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan kebaikan tersebut setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahalanya itu. (HR. Muslim)

NB : Sunnah merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam [1]

Dzulhijjah 1439 H

 

SUMBER

Panduan Penanganan Reaksi Anafilaktik

SUMBER : CME Docquity
Pendahuluan

Anafilaktik adalah reaksi hipersensitifitas yang sistemik, generalisata, bersifat serius, dengan onset cepat, dan mengancam nyawa hingga dapat menyebabkan kematian. (1,2) Jika reaksinya cukup hebat dapat menimbulkan penurunan tekanan darah dan pasien jatuh dalam kondisi syok, sehingga disebut syok anafilaktik. Syok anafilaktik membutuhkan pertolongan yang cepat dan tepat. (1)

Angka insiden anafilaktik yang sebenarnya sulit diketahui karena seringkali muncul didahului reaksi alergi. Studi retrospektif menunjukkan bahwa 1% pasien yang masuk ke unit gawat darurat dan memerlukan pertolongan maksimum disebabkan oleh reaksi anafilaktik. (3) Secara umum, 40-60% reaksi anafilaktik disebabkan oleh gigitan serangga, 20-40% akibat zat kontras radiologi, dan 10-20% akibat pemberian obat penisilin. (1) Penisilin merupakan penyebab 100 dari 500 kematian akibat reaksi anafilaksis.

Anafilaksis dapat terjadi pada semua usia. Kelompok usia yang memiliki insidensi paling tinggi adalah usia 0-19 tahun yaitu 70 kasus dari 100.000 populasi / tahun. (4) Alergi makanan berat paling sering terjadi pada anak-anak. Tidak ada faktor risiko jenis kelamin dalam kejadian anafilaktik. Baik pria maupun wanita dapat mengalami reaksi anafilaktik dengan penyebab yang khas untuk masing-masing kelompok seperti alergi aspirin dan bahan lateks paling sering pada wanita sementara gigitan serangga paling sering pada pria.

Gejala anafilaktik dapat terjadi dengan cepat. Semakin cepat onsetnya umumnya manifestasi klinisnya pun semakin berat dan semakin mengancam nyawa. (2) Seringkali anafilaksis tidak terdiagnosis dan tertangani dengan tepat karena kurang antisipasi. Oleh karena itu pemahaman mengenai reaksi anafilaktik dan penanganan kegawatannya menjadi penting untuk dikuasai.

Etiologi dan Patofisiologi

Reaksi anafilaktik merupakan reaksi imunologi yang melibatkan IgE dan kemudian menyebabkan aktivasi sel mast dan basofil sehingga terjadi pelepasan berbagai mediator inflamasi seperti histamin, prostaglandin, leukotrien, triptase, platelet-activating factor, sitokin, dan kemokin. Histamin memegang peranan terpenting dalam reaksi anafilaktik.

Berbagai agen yang dapat memicu timbulnya mekanisme ini adalah:

  • Makanan, khususnya kacang-kacangan, ikan dan makanan laut lainnya, telur, gandum
  • Obat, umumnya golongan penisilin, obat antiinflamasi non steroid
  • Bahan latex
  • Aktivitas fisik atau olahraga
  • Zat radiokontras
  • Gigitan serangga.

Meskipun reaksi anafilaktik dapat terjadi pada siapa saja, ada beberapa kondisi yang merupakan faktor risiko terjadinya anafilaktik, yaitu:

  • Riwayat atopi, seperti rinitis alergi, asma, dermatitis atopi
  • Rute masuknya agen pencetus anafilaktik. Obat atau makanan yang dikonsumsi oral biasanya lebih ringan gejalanya dibanding intravena.
Pendekatan Diagnosis (1,3–6)

Reaksi anafilaktik merupakan reaksi sistemik sehingga akan melibatkan beberapa sistem organ. Umumnya, setidaknya ada dua sistem organ yang terlibat meskipun didahului oleh salah satu sistem organ saja. (3,5) Empat sistem organ yang paling sering terlibat saat reaksi anafilaktik adalah kulit, sistem respirasi, gastrointestinal, dan kardiovaskular. Tanda dan gejalanya pun terjadi sesuai dengan sistem organ tersebut. Hal terpenting yang perlu diingat adalah gejala anafilaktik terjadi akut dan progresinya sangat cepat dan dapat memberat dalam waktu singkat, sehingga penting bagi tenaga medis untuk mengenali gejala awalnya.

Kriteria Diagnosis

Reaksi anafilaktik dapat didiagnosis melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik berdasarkan kriteria klinis yang ditetapkan oleh National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) yaitu:

  1. Onset gejala akut (dalam beberapa menit hingga jam) yang melibatkan kulit, mukosa, atau keduanya (seperti urtikaria generalisata, gatal, kemerahan, pembengkakan bibir/lidah/uvula) dan salah satu dari tanda berikut yaitu:
    1. Gangguan respirasi (sesak napas, mengi karena bronkospasme, stridor, hipoksemia, penurunan arus puncak ekspirasi)
    2. Penurunan tekanan darah atau gejala yang sesuai dengan gagal organ target (end-organ dysfunction) seperti sinkop, hipotonia, inkontinensia
  2. Atau, terjadi dua atau lebih gejala berikut yang muncul segera (beberapa menit hingga beberapa jam) setelah terpapar alergen atau pencetus yang mungkin (likely allergen), yaitu:
    1. Keterlibatan kulit, jaringan mukosa, atau keduanya (urtikaria generalisata, gatal, kemerahan, bengkak di bibir/lidah/uvula
    2. Respirasi (sesak, mengi karena bronkospasme, stridor, penurunan arus puncak ekspirasi, dan hipoksemia
    3. Penurunan tekanan darah atau gejala berhubungan dengan disfungsi organ target (sinkop, hipotonia, inkontinensia)
    4. Gejala gastrointestinal yang persisten (kram perut, muntah)
  3. Penurunan tekanan darah segera setelah terpapar alergen yang telah diketahui (dalam beberapa menit hingga jam) sesuai kriteria berikut:
    1. Bayi dan anak: tekanan darah sistolik rendah (menurut umur) atau terjadi penurunan >30% dari tekanan darah sistolik semula
    2. Dewasa: Tekanan darah sistolik <90mmg atau terjadi penurunan >30% dari tekanan darah sistolik semula.
Diagnosis Banding (5)

Meskipun diagnosis dapat ditegakkan secara klinis, reaksi anafilaktik memiliki diagnosis banding yang beragam. Diagnosis banding tersebut adalah:

  1. Syok karena penyebab lain seperti syok kardiogenik, distributif, obstruktif, atau hipovolemik
  2. Sinkop atau pre-sinkop
  3. Angioedema herediter
  4. Disfungsi pita suara
  5. Distress respiratori karena asma, emboli paru, gagal jantung atau penyebab lainnya
  6. Reaksi kulit akibat erupsi obat
  7. Gangguan psikiatri seperti serangan panik
Komplikasi (1,4)

Dengan penanganan yang tepat, pasien yang mengalami reaksi anafilaktik dapat sembuh sehingga jarang menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang mungkin muncul adalah iskemi miokard akibat hipotensi dan hipoksia, gangguan kesadaran karena hipoksia otak, koma, dan pada kondisi berat dapat menyebabkan kematian.

Penatalaksanaan(1,5)

Penatalaksanaan reaksi anafilaktik perlu dilakukan secara komprehensif meliputi non medikamentosa dan medikamentosa.

  1. Setelah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik singkat, kenali adanya tandaanafilaktik sesuai dengan kriteria diagnosis di atas. Kemudian, lakukan penilaianterhadap airway, breathing, circulation.
    1. Airway: adakah tanda sumbatan jalan napas seperti sesak, suara serak, stridor
    2. Breathing: sianosis, takipneu, wheezing, saturasi O 2 <92%
    3. Circulation: pucat, akral dingin dan lembab, hipotensi, pingsan
  2. Posisikan pasien pada posisi trendelenburg atau berbaring dengan kedua tungkai diangkat. Posisi ini akan membantu meningkatkan venous return sehingga diharapkan terjadi peningkatan tekanan darah.
  3. Berikan oksigen 3-5 liter/menit, pertimbangkan untuk melakukan intubasi atau trakeostomi pada kondisi sesak berat atau ancaman henti napas
  4. Pasang akses intravena berikan cairan plasma ekspander (Dextran). Bila tidak tersedia, berikan ringer laktat atau NaCl fisiologis sebagai cairan pengganti. Pemberian cairan tersebut dipertahankan sampai tekanan darah kembali optimal dan stabil.
  5. Berikan epinefrin atau adrenalin secara intramuskular di bagan paha regio anterolateral dengan dosis 0,01 mg/kgBB atau 0,3-0,5 mL dari larutan 1:1000. Pemberian epinefrin dapat diulangi 5-10 menit. Bila pasien tidak menunjukkan respon, berikan epinefrin secara intravena dengan dosis 0,1-0,2 mL adrenalin dilarutkan dalam 10 mL NaCl fisiologis dan diberikan secara perlahan. Hindari pemberian adrenalin subkutan karena efeknya lambat dan sulit untuk diabsorpsi.
  6. Bila terjadi bronkospasme dapat diberikan aminofilin. Berikan aminofilin sebanyak 250 mg secara perlahan selama 10 menit intravena.
  7. Antihistamin dan kortikosteroid adalah pilihan kedua setelah epinefrin. Kedua obat tersebut kurang bermanfaat pada tingkat syok anafilaktik.
  8. Lakukan resusitasi jantung paru (RJP) bila terjadi henti jantung dan lakukan sesuai algoritma henti jantung.
Kriteria Rujukan

Bila tidak ada perbaikan setelah dilakukan penanganan kegawatan, rujuk pasien ke layanan sekunder.

Pencegahan(1)

Pencegahan yang dapat dilakukan adalah menghindari faktor pencetus. Pada pasien yang diketahui memiliki riwayat alergi atau atopi, hindari pemberian obat atau makanan yang dapat menyebabkan timbulnya reaksi. Bagi tenaga medis, lakukan edukasi dan konseling pada pasien dan keluarga mengenai penyuntikan atau pemberian obat apapun karena setiap obat dapat menyebabkan reaksi anafilaktik.

Prognosis(1)

Prognosis reaksi anafilaktik sangat bergantung pada kecepatan terapi. Bila ditangani dengan cepat umumnya prognosisnya dubia ad bonam.

Sumber:
  1. Ikatan Dokter Indonesia. Reaksi Anafilaktik. In: Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. 2014. p. 406–8.
  2. Kim H, Fischer D. Anaphylaxis. Allergy, Asthma Clin Immunol. 2011;7(Suppl 1):1–7.
  3. Ring J, Beyer K, Biedermann T, Bircher A, Duda D, Fischer J, et al. Guideline for acute therapy and management of anaphylaxis. Allergo J Int. 2014;23(3):96–112.
  4. Mustafa SS. Anaphylaxis [Internet]. 2017 [cited 2017 Oct 29]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/135065-overview#a5 .
  5. Campbell RL, Li JTC, Nicklas RA, Sadosty AT. Emergency department diagnosis and treatment of anaphylaxis: A practice parameter. Ann Allergy, Asthma Immunol. American College of Allergy, Asthma & Immunology; 2014;113(6):599–608.
  6. Clinical criteria for diagnosing anaphylaxis [Internet]. 2017 [cited 2017 Oct 29]. Available from: http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/501/diagnosis/criteria.html