Sering Pilek, Cuci Hidung!

Mebasuh hidung hingga ke kerongkongan salah satu sunnah yang mungkin masih sering kita lalaikan. Saat berwudhu dengan air biasa, akan terasa perih ketika air melewati lubang hidung (apalagi sampai di kerongkongan). Padahal salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mencuci hidung.

CUCI HIDUNG DALAM KEDOKTERAN

Cuci hidung dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah Nasal Irrigation / irigasi hidung. Dilakukan dengan menggunakan air garam / larutan salin (biasa dengan cairan infus NaCl 0,9 %) dimasukkan melalui hidung kanan lalu dikeluarkan melalui hidung kiri atau sebaliknya.

Mengapa menggunakan larutan garam 0,9%? Sebab larutan garam dengan kadar tersebut memiliki keseimbangan yang sama dengan lapisan dalam kulit, sehingga saat larutan masuk ke dalam hidung tidak terasa perih. Jadi dianjurkan menggunakan larutan yang sesuai takaran ya..

Bersumber dari jurnal kedokteran International Journal of Environmental Research and Public Health, tindakan cuci hidung dapat melembabkan lapisan lendir pada rongga hidung. Mediator penyebab reaksi peradangan atau alergi seperti prostaglandin dan leukotrien juga terbuang selama tindakan ini. Tak heran jika gejala alergi atau gejala flu/pilek dapat berkurang.  Dengan dialirkannya cairan salin di rongga hidung, produksi cairan dan kelembaban rongga hidung mudah terkendali sehingga berkumpulnya kuman bakteri dapat dicegah. Kandungan ion-ion dalam cairan pembersih juga memberi manfaat tersendiri seperti membantu perbaikan sel selama proses radang, mencegah kerusakan sel, menurukan kekentalan dahak, dan mengurangi kematian sel epitel. [2]

ISTINSYAQ

Istinsyaq yaitu menghirup air ke dalam hidung.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ

Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke lubang hidungnya (istinsyaq), lalu ia keluarkan (istintsar).” (HR. Muslim, no. 237)

 

Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْبِغِ الوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً

Sempurnakanlah wudhu, bersihkanlah di antara sela-sela jari-jemari, dan berlebih-lebihanlah dalam melakukan istinsyaq kecuali apabila engkau dalam keadaan berpuasa.(hadis sahih. Lihat: Shahih Abi Dawud, no. 130, Irwa` al-Ghalil, no. 935, Shahah al-Jami’ ash-Shaghar, no. 927, dll.)

Dianjurkan untuk berlebih-lebihan berkumur dan beristinsyaq bagi orang yang tidak berpuasa. (Kifayah al-Akhyar, hal. 43, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)

Imam ash-Shon’ani rahimahullah berkata dalam Subul as-Salam: “Hadis ini adalah dalil yang menganjurkan untuk berlebih-lebihan dalam melakukan istinsyaq bagi orang yang tidak berpuasa. Ia tidak boleh berlebih-lebihan dalam beristinsyaq agar air tidak masuk ke dalam kerongkongannya sehingga dapat membatalkan puasa. Ini menunjukkan bahwa berlebih-lebihan dalam beristinsyaq tidaklah wajib. Sebab, andai saja hukumnya wajib, tentu orang yang berpuasa wajib mengerjakan dan tidak boleh meninggalkannya.” (penjelasan hadis no. 36, dari kitab Bulugh al-Maram)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah bertutur: “Termasuk perkara yang disunahkan ketika berwudhu adalah berlebih-lebihan dalam berkumur dan beristinsyaq. Berlebih-lebihan dalam berkumur berarti menggerakkan air dengan kuat hingga air tersebut dapat mencapai seluruh sisi mulut. Sedangkan berlebih-lebihan dalam beristinsyaq artinya menghirup air dengan nafas dengan kuat. (asy-Syarh al-Mumti’, jilid 1, hal. 171)

Dalam kitab Fiqh as-Sunnah disebutkan: “Disunahkan untuk berlebih-lebihan dalam beristinsyaq. (jilid 1, hal. 56, cet. Dar al-Fath)

Demikian penjelasan singkat seputar berlebih-lebihan dalam beristinsyaq. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk menghidupkan sunah yang satu ini dan sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya. Aamiin. [3]

perlengkapan : spuit (suntikan tanpa jarum. baca : spet) dan larutan steril NaCl 0,9%
buat lubang dengan pisau yang ujungnya tajam untuk menusuk lapisan dalam abu-abu (lihat foto), jadi cairan infus disedot dengan spuit melalui lubang tersebut

Berikut sedikit informasi mengenai cuci hidung agar terhindar dari penyakit..insyaAllah. Semoga bisa menambah pengetahuan kita akan sunnah.

Sangatlah terpuji bila seseorang begitu perhatian terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak kebaikan yang akan ia dapatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala karena perhatiannya terhadap sunah tersebut. Ia akan mendapatkan limpahan pahala, keutamaan, kebaikan dan lain-lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

Barang siapa yang menghidupkan kembali sunah yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan kebaikan tersebut setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahalanya itu. (HR. Muslim)

NB : Sunnah merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam [1]

Dzulhijjah 1439 H

 

SUMBER

One thought on “Sering Pilek, Cuci Hidung!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s