BDB: Bukan Demam Biasa

BDB: Bukan Demam Biasa

“Penderita DBD Meninggal Akibat Penanganan Lambat,” begitu kutipan judul yang saya ambil dari sebuah koran. Sebenarnya judul tersebut diawali kata “Banyak”, tapi tak tega rasanya menulis banyak penderita DBD meninggal *DBD kan tak perlu menelan banyak korban

Lain lagi dengan berita di TV kemarin pagi, “Pasien DBD meninggal, pihak RS menolak menangani karena kamar penuh…” Salahkah pihak RS bila dinilai menolak tangani penderita DBD?

Selama saya koskap di bagian anak, hampir tiap hari pasien DBD berdatangan dengan segala kondisinya: demam, lemah, letih, lesu, bahkan syok! Rata-rata ibu membawa anaknya ke RS saat kondisi si anak sudah syok alias di masa kritis DBD.

Bukan pihak rumah sakit yang harus disalahkan bila si anak memang datang dalam kondisi syok sehingga belum sempat ditangani, si anak sudah “plus”.. Atau semestinya si anak masuk ke PICU (Pediatric Intensive Care Unit) karena kondisinya yang memang sudah kritis, namun tak semua RS punya ruang intensif.

Orangtua juga tak bisa sepenuhnya disalahkan bila si anak terlambat ditangani karena sudah syok. Hmm.. anyway, buat ibu-ibu atau bapak yang punya anak demam, mending dibawa ke RS yaa.. Jangan nunggu demamnya reda, coba liat grafik ini, saat panas reda mungkin itu masa-masa kritisnya.. Benar kan DBD is BDB (Bukan Demam Biasa) πŸ™‚

*inspired by seorang ayah yang meratap anak pertamanya terbaring kaku karena DBD 😦



Advertisements

6 thoughts on “BDB: Bukan Demam Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s