Resep Zuppa Soup

Bismillah. Lebaran kali ini terasa berbeda dengan tahun sebelumnya. Sejak nikah, hampir tiap idul fitri kami menghidangkan menu Sup Bakso Ikan Tenggiri. Qadarullah pandemi Covid-19 membuat stok ikan di pasar berkurang. Sudah mencari kemana-mana sejak H-7 lebaran namun tak kunjung dapat. Belum lagi h-1 lebaran ada kabar salah satu pasar pusat pelelangan ikan dilakukan pemeriksaan massal Covid-19 dan tidak beroperasional. FIX, hari lebaran tidak jadi masak sup bakso ikan.

Karena stok ayam sudah siap di kulkas, jadilah ayam diolah menjadi Zuppa Soup.

Berikut resep Zuppa Soup ala Cookink :

BAHAN: (isian sesuai selera)

  • 1 bawang bombay (ukuran kecil)
  • 5 bawang putih
  • 1 daun bawang
  • wortel
  • jamur
  • jagung
  • sosis
  • 1/2 kg ayam
  • 750 cc kaldu (dari ayam 1/2 kg)
  • jahe
  • garam
  • merica
  • pala secukupnya
  • margarin (untuk menumis)
  • 250 cc susu UHT putih
  • susu kental manis (sesuai selera)
  • Terigu+maizena (dicampur air untuk kekentalan zuppa sesuai selera)
  • Kulit pastry instan
  • 1 Telur (untuk olesan atas pastry)
  • Wadah aluminiuim foil

CARA MEMBUAT :

  1. Rebus ayam dengan bahan jahe, merica dan garam hingga menjadi kaldu
  2. Tumis bumbu halus dengan margarin hingga harum, masukkan bahan isian. Ayam sisa kaldu diiris kotak dan dimasukkan ke dalam bumbu halus.
  3. Tuang bumbu halus dalam kuah kaldu. Masukkan susu uht dan larutan tepung untuk mengentalkan zuppa.
  4. Masukkan zuppa ke dalam wadah aluminium foil. Bentuk irisan pastry sesuai ukuran. Oles lapisan bawah dengan air/putih telur, oles lapisan atas dengan kuning telur. Sebelum mengoles, iris tipis lapisan atas agar bentuk zuppa cantik saat mengembang
  5. Panggang dengan oven suhu tinggi hingga pastry matang.

Siap disajikan.

Catatan:

Porsi zuppa yang dipanggang jangan terlalu penuh agar tidak mengenai pastry saat mendidih dalam oven. Hidangkan kuah zuppa untuk menambah jika porsi zuppa kurang.

Selamat mencoba.

3 Syawal 1441H

Pemeriksaan HIV / AIDS- IMS di Semarang

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh! Tulisan pertama di tahun 2020 akan membahas seputar HIV / AIDS dan IMS (Infeksi Menular Seksual). Kebetulan penulis bekerja di salah satu fasilitas kesehatan dengan layanan pemeriksaan HIV/AIDS serta IMS. Sedikit berbagi yaa..

Sudah tahu belum apa itu HIV/AIDS dan IMS?

HIV/AIDS adalah infeksi virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Jika terinfeksi virus ini, kekebalan tubuh semakin lama semakin berkurang dan jika tidak diobati, lama-kelamaan dapat menjadi AIDS; kondisi dimana terjadi berbagai infeksi akibat kekebalan tubuh yang telah rusak.

HIV sendiri terdiri dari 4 stadium, dimana stadium awal tidak ada gejala yang dirasakan sama sekali dan stadium akhir yaitu AIDS.

Untuk mengetahui apakah Anda menderita infeksi HIV/AIDS, cukup datang ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan pemeriksaan VCT atau KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela).

Pemeriksaan VCT GRATIS tanpa dipungut biaya, begitupun jika Anda positif didiagnosa menderita HIV, pengobatan HIV GRATIS dari pemerintah.

Siapa sih yang disarankan melakukan pemeriksaan VCT?

Yang disarankan melakukan pemeriksaan VCT adalah orang yang beresiko mendapat penularan HIV/AIDS atau IMS, antara lain:

  • Menjadi pelanggan pekerja seksual
  • Pekerja Seksual
  • Sering berganti pasangan
  • Pernah tertusuk jarum suntik (tenaga medis)
  • Berganti-ganti jarum suntik (pengguna narkoba)
  • LSL (Lelaki Seks Lelaki / Gay)
  • Donor darah
  • Bayi dari ibu positif HIV
  • Memiliki pasangan beresiko di atas atau sudah terinfeksi HIV

Selain HIV dan AIDS, ada banyak Infeksi Menular Seksual (IMS) tanpa gejala atau dengan gejala yang bisa menginfeksi jika melakukan faktor resiko di atas.

NAH! Jika merasa pernah melakukan resiko-resiko di atas, saudara bisa datang ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan VCT dan pengobatannya. Untuk daerah Semarang, beberapa Puskesmas yang menyediakan pemeriksaan dan layanan pengobatan di antaranya : Puskesmas Halmahera, Puskesmas Poncol, Puskesmas Kedungmundu, Puskesmas Srondol, Puskesmas Gayamsari.

Perlu diketahui bahwa pernah melakukan salah satu faktor resiko di atas dan saat ini tidak merasa gejala sama sekali, masih mungkin berpotensi saudara terkena virus HIV, sebab gejala HIV tidak langsung muncul seketika saat infeksi masuk ke dalam darah. Oleh karena itu, lakukan tes VCT secara berkala jika merasa pernah memiliki faktor resiko di atas.

TIPS pengobatan HIV/AIDS

HIV/AIDS TIDAK BISA DISEMBUHKAN lho! AYO CEGAH PENYAKIT HIV/AIDS dan IMS dengan ABCDE: •Abstinensia: tidak melakukan hubungan sex bagi yang belum menikah –Periksa Tes HIV bagi pasangan yang akan menikah •Be Faithful : setia pada pasangan

Condom     : gunakan pengaman bila melakukan hubungan sex berisiko tertular •Don’t drugs : jangan mengkonsumsi alkohol, narkotika •Edukasi: berobat teratur

Semoga artikel bermanfaat!

Akreditasi undip

Assalamu’alaykum!

Butuh akreditasi Undip dan akreditasi Program Studi Pendidikan Kedokteran Undip? Silahkan download di sini yaa:

Akreditasi Unversitas Diponegoro:

Akreditasi Program Studi Pendidikan Dokter:

Tanya-tanya silahkan komen di bawah 🙂

Syarat CPNS 2018

Assalamu’alaykum, long time no see.. mau berbagi syarat CPNS 2018 nih!

Kebetulan masih punya arsip berkas yang tidak terpakai tempo hari saat daftar cpns. Jadi masih ingat syarat pendaftaran cpns 2018 lalu.

Untuk CPNS 2018, pendaftaran online tanpa mengirimkan data sama sekali. Cukup modal dokumen, internet yang lancar dan kejernihan pikiran insyaAllah pendaftaran lancar.

Suasana tes SKD CPNS Kota Semarang 2018 di GOR Wujil Ungaran, Kab. Semarang

Syarat CPNS 2018:

  1. KTP asli atau surat keterangan telah melakukan rekaman kependudukan yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil;
  2. Pas foto berwarna tampak depan terbaru berlatar belakang merah, posisi potret, rasio 3:4;
  3. Swafoto/selfie denga membawa kartu informasi akun SSCN 2018 dan KTP;
  4. Ijazah asli;
  5. Transkrip nilai asli;
  6. Bukti akreditas program studi ada saat lulus;
  7. Surat Tanda Registrasi (STR) sesuai dengan keahliannya untuk tenaga kesehatan dan Sertifikat Pendidik yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan untuk tenaga guru.

Tips mendaftar CPNS:

  1. Berdoa dan pikirkan dengan matang lokasi PNS yang dituju, sebab di kontrak CPNS, syarat mutasi pindah minimal setelah 10 tahun kerja.
  2. Pilih penempatan (daftar) di akhir batas waktu yang ditentukan agar bisa melihat peluang kelulusan. Misal, tempo hari saya daftar di lokasi yang pendaftarnya hanya sedikit orang. Meskipun di tempat yang sedikit orang belum tentu juga bisa lolos, namun setidaknya peluang untuk lulus bisa lebih besar dibanding daftar di tempat yang pendaftarannya ratusan.
  3. Latihan soal sesering mungkin, tidak rugi sering latihan walau soalnya pasti tidak sama.
  4. Siapkan tenaga untuk melewati tahapan CPNS. Jaga kesehatan dan hindari belajar h-1 ujian. Sebab jika fisik sehat, insyaAllah bisa tenang mengerjakan ujian.

Silahkan tulis komen di bawah untuk pertanyaan seputar CPNS 2018 yaa.. Semoga bermanfaat 🙂

Cara Cuci Hidung

Pertama kali mengenal tindakan cuci hidung saat kontrol luka operasi sinusitis tahun 2007. Dokter spesialis THT yang menangani, menganjurkan cuci hidung agar tidak terjadi perlengketan di bekas jahitan operasi sinus.

Tempo hari saya menderita sinusitis akut hingga mengalami vertigo (pusing saat bergerak). Sedikit cerita tentang sinusitis bisa dibaca di sini yaa..

Mencuci hidung tak hanya untuk penderita sinusitis. Justru mencegah adanya infeksi pada hidung bisa dilakukan dengan tindakan CUCI HIDUNG ini.

Berikut beberapa manfaat cuci hidung; [2]

  1. Membersihkan hidung dari debu, polusi dan partikel berbahaya lainnya yang terhirup
  2. Mengencerkan lendir pilek yang kental
  3. Membersihkan mediator penyebab radang sehingga mengurangi gejala alergi/gangguan pada hidung lain
  4. Menjaga kelembapan rongga hidung
  5. Mencegah berkumpulnya bakteri
  6. Memperbaiki fungsi mukosilia (sistem pertahanan) di dalam hidung
  7. Mengurangi pembengkakan akibat radang

Berikut video yang menggambarkan bagaimana cara dan manfaat mencuci hidung.

Step mencuci hidung :

  1. Ambil larutan infus NaCl 0,9% (larutan saline). Lubangi ujung infus dengan cara mencolok (bisa dengan sedotan atau ujung lancip pisau). Jika kesulitan, tuang larutan ke dalam wadah mangkuk atau semacamnya
  2. Siapkan suntikan (spuit) 10cc/20cc/50cc tanpa jarum
  3. Ambil larutan NaCl 0,9% sebanyak 10-20 cc (tergantung ukuran suntikan yang digunakan) melalui lubang yang telah disiapkan/dari wadah
  4. Untuk hidung kanan, miringkan kepala ke kiri, tahan nafas, semprot hidung kanan.
  5. Jika semprotan benar, air NaCl akan keluar di hidung kiri. Jika tidak sengaja tertelan atau terhirup pun tidak berbahaya.
  6. Lakukan tidakan serupa untuk hidung sebelahnya.

This slideshow requires JavaScript.

Tindakan cuci hidung ini bisa dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore), khususnya bila sedang mengalami gejala pilek (bersin-bersin, hidung gatal, meler, hidung tersumbat, dsb). Tanpa gejala pun, cuci hidung bisa rutin dilakukan, sama halnya dengan menggosok gigi.

AYO belajar mencuci hidung, minimal saat berwudhu latihan ber-ISTINSYAQ. Pertanyaan seputar cuci hidung bisa komen di bawah ya..

Sumber :

[1] Kompasiana – Mencuci Hidung Mencegah Penyakit Alergi Hingga Infeksi

[2] Artikel Liputan6.com – Mulai Biasakan Cuci Hidung dan Dapatkan 6 Manfaat ini

 

Sering Pilek, Cuci Hidung!

Mebasuh hidung hingga ke kerongkongan salah satu sunnah yang mungkin masih sering kita lalaikan. Saat berwudhu dengan air biasa, akan terasa perih ketika air melewati lubang hidung (apalagi sampai di kerongkongan). Padahal salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mencuci hidung.

CUCI HIDUNG DALAM KEDOKTERAN

Cuci hidung dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah Nasal Irrigation / irigasi hidung. Dilakukan dengan menggunakan air garam / larutan salin (biasa dengan cairan infus NaCl 0,9 %) dimasukkan melalui hidung kanan lalu dikeluarkan melalui hidung kiri atau sebaliknya.

Mengapa menggunakan larutan garam 0,9%? Sebab larutan garam dengan kadar tersebut memiliki keseimbangan yang sama dengan lapisan dalam kulit, sehingga saat larutan masuk ke dalam hidung tidak terasa perih. Jadi dianjurkan menggunakan larutan yang sesuai takaran ya..

Bersumber dari jurnal kedokteran International Journal of Environmental Research and Public Health, tindakan cuci hidung dapat melembabkan lapisan lendir pada rongga hidung. Mediator penyebab reaksi peradangan atau alergi seperti prostaglandin dan leukotrien juga terbuang selama tindakan ini. Tak heran jika gejala alergi atau gejala flu/pilek dapat berkurang.  Dengan dialirkannya cairan salin di rongga hidung, produksi cairan dan kelembaban rongga hidung mudah terkendali sehingga berkumpulnya kuman bakteri dapat dicegah. Kandungan ion-ion dalam cairan pembersih juga memberi manfaat tersendiri seperti membantu perbaikan sel selama proses radang, mencegah kerusakan sel, menurukan kekentalan dahak, dan mengurangi kematian sel epitel. [2]

ISTINSYAQ

Istinsyaq yaitu menghirup air ke dalam hidung.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ

Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke lubang hidungnya (istinsyaq), lalu ia keluarkan (istintsar).” (HR. Muslim, no. 237)

 

Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْبِغِ الوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً

Sempurnakanlah wudhu, bersihkanlah di antara sela-sela jari-jemari, dan berlebih-lebihanlah dalam melakukan istinsyaq kecuali apabila engkau dalam keadaan berpuasa.(hadis sahih. Lihat: Shahih Abi Dawud, no. 130, Irwa` al-Ghalil, no. 935, Shahah al-Jami’ ash-Shaghar, no. 927, dll.)

Dianjurkan untuk berlebih-lebihan berkumur dan beristinsyaq bagi orang yang tidak berpuasa. (Kifayah al-Akhyar, hal. 43, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)

Imam ash-Shon’ani rahimahullah berkata dalam Subul as-Salam: “Hadis ini adalah dalil yang menganjurkan untuk berlebih-lebihan dalam melakukan istinsyaq bagi orang yang tidak berpuasa. Ia tidak boleh berlebih-lebihan dalam beristinsyaq agar air tidak masuk ke dalam kerongkongannya sehingga dapat membatalkan puasa. Ini menunjukkan bahwa berlebih-lebihan dalam beristinsyaq tidaklah wajib. Sebab, andai saja hukumnya wajib, tentu orang yang berpuasa wajib mengerjakan dan tidak boleh meninggalkannya.” (penjelasan hadis no. 36, dari kitab Bulugh al-Maram)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah bertutur: “Termasuk perkara yang disunahkan ketika berwudhu adalah berlebih-lebihan dalam berkumur dan beristinsyaq. Berlebih-lebihan dalam berkumur berarti menggerakkan air dengan kuat hingga air tersebut dapat mencapai seluruh sisi mulut. Sedangkan berlebih-lebihan dalam beristinsyaq artinya menghirup air dengan nafas dengan kuat. (asy-Syarh al-Mumti’, jilid 1, hal. 171)

Dalam kitab Fiqh as-Sunnah disebutkan: “Disunahkan untuk berlebih-lebihan dalam beristinsyaq. (jilid 1, hal. 56, cet. Dar al-Fath)

Demikian penjelasan singkat seputar berlebih-lebihan dalam beristinsyaq. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk menghidupkan sunah yang satu ini dan sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya. Aamiin. [3]

perlengkapan : spuit (suntikan tanpa jarum. baca : spet) dan larutan steril NaCl 0,9%

buat lubang dengan pisau yang ujungnya tajam untuk menusuk lapisan dalam abu-abu (lihat foto), jadi cairan infus disedot dengan spuit melalui lubang tersebut

Berikut sedikit informasi mengenai cuci hidung agar terhindar dari penyakit..insyaAllah. Semoga bisa menambah pengetahuan kita akan sunnah.

Sangatlah terpuji bila seseorang begitu perhatian terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak kebaikan yang akan ia dapatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala karena perhatiannya terhadap sunah tersebut. Ia akan mendapatkan limpahan pahala, keutamaan, kebaikan dan lain-lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

Barang siapa yang menghidupkan kembali sunah yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan kebaikan tersebut setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahalanya itu. (HR. Muslim)

NB : Sunnah merupakan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam [1]

Dzulhijjah 1439 H

 

SUMBER

ZUHUD

SUMBER : Muslim.or.id

Kata zuhud sering disebut-sebut ketika kita mendengar nasehat dan seruan agar mengekang ketamakan terhadap dunia dan mengejar kenikmatannya yang fana dan pasti sirna, dan agar jangan melupakan kehidupan akhirat yang hakiki setelah kematian. Hal ini sebagaimana peringatan Allah tentang kehidupan dunia yang penuh dengan fatamorgana dan berbagai keindahan yang melalaikan dari hakikat kehidupan yang sebenarnya.

Allah berfirman,

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu, batil, dan sekadar permainan. Yang dimaksud sekadar permainan adalah sesuatu yang tiada bermanfaat dan melalaikan. Ayat ini juga menunjukkan bahwa dunia adalah perhiasan, dan orang-orang yang terfitnah dengan dunia menjadikannya sebagai perhiasannya dan tempat untuk saling bermegah-megahan dengan kenikmatan yang ada padanya berupa anak-anak, harta-benda, kedudukan dan yang lainnya sehingga lalai dan tidak beramal untuk akhiratnya.

Allah menyerupakan kehancuran dunia dan kefanaannya yang begitu cepat dengan hujan yang turun ke permukaan bumi. Ia menumbuhkan tanaman yang menghijau lalu kemudian berubah menjadi layu, kering dan pada akhirnya mati. Demikianlah kenikmatan dunia, yang pasti pada saatnya akan punah dan binasa. Maka barangsiapa mengambil pelajaran dari permisalan yang disebutkan di atas, akan mengetahui bahwa dunia ibarat es yang semakin lama semakin mencair dan pada akhirnya akan hilang dan sirna. Sedangkan segala apa yang ada di sisi Allah adalah lebih kekal, dan akhirat itu lebih baik dan utama sebagaimana lebih indah dan kekalnya permata dibandingkan dengan es. Apabila seseorang mengetahui dengan yakin akan perbedaan antara dunia dan akhirat dan dapat membandingkan keduanya, maka akan timbul tekad yang kuat untuk menggapai kebahagian dunia akhirat.

Definisi Zuhud

Banyak sekali penjelasan ulama tentang makna zuhud. Umumnya mengarah kepada makna yang hampir sama. Di sini akan disampaikan sebagian dari pendapat tersebut.

Makna secara bahasa:

Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”.

Makna secara istilah:

Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.

Di sini zuhud ditafsirkan dengan tiga perkara yang semuanya berkaitan dengan perbuatan hati:

  1. Bagi seorang hamba yang zuhud, apa yang ada di sisi Allah lebih dia percayai daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Hal ini timbul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah. Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya, “Berupa apakah hartamu?” Beliau menjawab, “Dua macam. Aku tidak pernah takut miskin karena percaya kepada Allah, dan tidak pernah mengharapkan apa yang ada di tangan manusia.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Engkau tidak takut miskin?” Beliau menjawab, “(Mengapa) aku harus takut miskin, sedangkan Rabb-ku adalah pemilik langit, bumi serta apa yang berada di antara keduanya.”
  2. Apabila terkena musibah, baik itu kehilangan harta, kematian anak atau yang lainnya, dia lebih mengharapkan pahala karenanya daripada mengharapkan kembalinya harta atau anaknya tersebut. Hal ini juga timbul karena keyakinannya yang sempurna kepada Allah.
  3. Baginya orang yang memuji atau yang mencelanya ketika ia berada di atas kebenaran adalah sama saja. Karena kalau seseorang menganggap dunia itu besar, maka dia akan lebih memilih pujian daripada celaan. Hal itu akan mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran karena khawatir dicela atau dijauhi (oleh manusia), atau bisa jadi dia melakukan kebatilan karena mengharapkan pujian. Jadi, apabila seorang hamba telah menganggap sama kedudukan antara orang yang memuji atau yang mencelanya, berarti menunjukkan bahwa kedudukan makhluk di hatinya adalah rendah, dan hatinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran.

Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai sembilan istri. Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Shahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.

Tingkatan Zuhud

Ada beberapa tingkatan zuhud sesuai dengan keadaan setiap orang yang melakukannya, yaitu:

  1. Berusaha untuk hidup zuhud di dunia; sementara ia menghendaki (dunia tersebut), hati condong kepadanya dan selalu menoleh ke arahnya, akan tetapi ia berusaha melawan dan mencegahnya.
  2. Orang yang meninggalkan dunia dengan suka rela, karena di matanya dunia itu rendah dan hina, meskipun ada kecenderungan kepadanya. Dan ia meninggalkan dunia tersebut (untuk akhirat), bagaikan orang yang meninggalkan uang satu dirham untuk mendapatkan uang dua dirham (maksudnya balasan akhirat itu lebih besar daripada balasan dunia).
  3. Orang yang zuhud dan meninggalkan dunia dengan hati yang lapang. Ia tidak melihat bahwa dirinya meninggalkan sesuatu apapun. Orang seperti ini bagaikan seseorang yang hendak masuk ke istana raja, terhalangi oleh anjing yang menjaga pintu, lalu ia melemparkan sepotong roti ke arah anjing tersebut sehingga membuat anjing tersebut sibuk (dengan roti tadi), dan ia pun dapat masuk (ke istana) untuk menemui sang Raja dan mendapatkan kedekatan darinya. Anjing di sini diumpamakan sebagai syaitan yang berdiri di depan pintu (kerajaan/surga) Allah, yang menghalangi manusia untuk masuk ke dalamnya, sementara pintu tersebut dalam keadaan terbuka. Adapun roti diumpamakan sebagai dunia, maka barangsiapa meninggalkannya niscaya akan memperoleh kedekatan dari Allah.

Hal-Hal yang Mendorong untuk Hidup Zuhud

1. Keimanan yang kuat dan selalu ingat bagaimana ia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat guna mempertanggung-jawabkan segala amalnya, yang besar maupun yang kecil, yang tampak ataupun yang tersembunyi. Ingat! betapa dahsyatnya peristiwa datangnya hari kiamat kelak. Hal itu akan membuat kecintaannya terhadap dunia dan kelezatannya menjadi hilang dalam hatinya, kemudian meninggalkannya dan merasa cukup dengan hidup sederhana.

2. Merasakan bahwa dunia itu membuat hati terganggu dalam berhubungan dengan Allah, dan membuat seseorang merasa jauh dari kedudukan yang tinggi di akhirat kelak, dimana dia akan ditanya tentang kenikmatan dunia yang telah ia peroleh, sebagaimana firman Allah,

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur: 6)

Perasaan seperti ini akan mendorong seorang hamba untuk hidup zuhud.

3. Dunia hanya akan didapatkan dengan susah payah dan kerja keras, mengorbankan tenaga dan pikiran yang sangat banyak, dan kadang-kadang terpaksa harus bergaul dengan orang-orang yang berperangai jahat dan buruk. Berbeda halnya jika menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah; jiwa menjadi tentram dan hati merasa sejuk, menerima takdir Allah dengan tulus dan sabar, ditambah akan menerima balasan di akhirat. Dua hal di atas jelas berbeda dan (setiap orang) tentu akan memilih yang lebih baik dan kekal.

4. Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak menyebutkan tentang kehinaan dan kerendahan dunia serta kenikmatannya yang menipu (manusia). Dunia hanyalah tipu daya, permainaan dan kesia-siaan belaka. Allah mencela orang-orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang fana ini daripada kehidupan akhirat, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naaziat: 37-39)

Dalam ayat yang lainnya Allah berfirman,

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 16-17)

Semua dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah, mendorong seorang yang beriman untuk tidak terlalu bergantung kepada dunia dan lebih mengharapkan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal.

Zuhud yang Bermanfaat dan Sesuai Dengan Syariat

Zuhud yang disyariatkan dan bermanfaat bagi orang yang menjalaninya adalah zuhud yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat demi menggapai kehidupan akhirat. Adapun sesuatu yang memberi manfaat bagi kehidupan akhirat dan membantu untuk menggapainya, maka termasuk salah satu jenis ibadah dan ketaatan. Sehingga berpaling dari sesuatu yang bermanfaat merupakan kejahilan dan kesesatan sebagaimana sabda Nabi,

“Carilah apa yang bermanfaat bagi dirimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (HR. Muslim hadits no. 4816)

Yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah beribadah kepada Allah, menjalankan ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Dan semua yang menghalangi hal ini adalah perkara yang mendatangkan kemudharatan dan tidak bermanfaat. Yang paling berguna bagi seorang hamba adalah mengikhlaskan seluruh amalnya karena Allah. Orang yang tidak memperhatikan segala yang dicintai dan dibenci oleh Allah dan rasul-Nya akan banyak menyia-nyiakan kewajiban dan jatuh ke dalam perkara yang diharamkan; meninggalkan sesuatu yang merupakan kebutuhannya seperti makan dan minum; memakan sesuatu yang dapat merusak akalnya sehingga tidak mampu menjalankan kewajiban; meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar; meningalkan jihad di jalan Allah karena dianggap mengganggu dan merugikan orang lain. Pada akhirnya, orang-orang kafir dan orang-orang jahat mampu menguasai negeri mereka dikarenakan meninggalkan jihad dan amar ma’ruf -tanpa ada maslahat yang nyata-.

Allah berfirman,

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.’” (QS. Al-Baqarah: 217)

Allah menjelaskan dalam ayat ini, walaupun membunuh jiwa itu merupakan keburukan, akan tetapi fitnah yang ditimbulkan oleh kekufuran, kezaliman dan berkuasanya mereka (orang-orang kafir) lebih berbahaya dari membunuh jiwa. Sehingga menghindari keburukan yang lebih besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan adalah lebih diutamakan. Seumpama orang yang tidak mau menyembelih hewan dengan dalih bahwa perbuatan tersebut termasuk aniaya terhadap hewan. Orang seperti ini adalah jahil, karena hewan tersebut pasti akan mati. Disembelihnya hewan tersebut untuk kepentingan manusia adalah lebih baik daripada mati tanpa mendatangkan manfaat bagi seorang pun. Manusia lebih sempurna dari hewan, dan suatu kebaikan tidak mungkin bisa sempurna untuk manusia kecuali dengan memanfaatkannya, baik untuk dimakan, dijadikan sebagai kendaraan atau yang lainya. Yang dilarang oleh Nabi adalah menyiksanya dan tidak menunaikan hak-haknya yang telah tetapkan oleh Allah.

Nabi bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu, maka jikalau kalian membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan baik, hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim hadits no. 3615)

Zuhud yang Bid’ah dan Menyelisihi Syari’at

Zuhud yang menyelisihi Sunnah tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Karena ia menganiaya hati dan membutakannya, membuat agama menjadi buruk dan hilang nilai-nilai kebaikannya yang diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, menjauhkan manusia dari agama Allah, menghancurkan peradaban, dan memberi kesempatan bagi musuh-musuh Islam untuk menguasai mereka; merendahkan kemuliaan seseorang serta menjadikan seorang hamba menyembah kepada selain Allah. Berikut ini beberapa perkataan para penyeru zuhud yang menyelisihi petunjuk Nabi.

Perkataan Junaid, salah seorang penyeru zuhud yang menyelisihi syariat, “Saya senang kalau seorang pemula dalam kezuhudan tidak menyibukkan diri dengan tiga perkara agar tidak berubah keadaannya, yaitu bekerja untuk mendapatkan rezeki, menuntut ilmu hadist, dan menikah. Dan lebih aku senangi jika seorang sufi tidak membaca dan menulis agar niatnya lebih terarah.” (Kitab Quatul-Qulub 3/135, kitab karya Junaid).

Perkataan Abu Sulaiman ad-Darani, “Jika seseorang telah menuntut ilmu, pergi mencari rezeki atau menikah, maka dia telah bersandar kepada dunia.” (Kitab Al-Futuhat Al-Makiyah, 1/37).

Padahal telah dimaklumi bahwa semua peradaban di dunia ini tidak mungkin tegak dan berkembang kecuali dengan tiga perkara, yaitu dengan bekerja, mencari ilmu, dan menikah demi meneruskan keturunan manusia. Rasulullah sendiri telah memerintahkan kita bekerja mencari rezeki sebagaimana dalam sabda beliau,

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya nabi Allah, Dawud, makan dari hasil kerja tangannya.” (HR. Bukhari, III/8 hadits no. 1930)

Dan Rasulullah telah memerintahkan umatnya untuk menikah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan (lahir dan batin) untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Sesungguhnya pernikahan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Sedangkan untuk yang tidak mampu, hendaklah berpuasa karena puasa itu dapat menjaganya (yaitu benteng nafsu).” (HR. Bukhari, VI/117)

Beliau juga memerintahkan kaum muslimin menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun dunia, sebagaimana sabdanya,

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (Ibnu Majah hadits no. 220. Hadist Sahih, lihat Kitab Al-Jami’ As-Shahih no. 3808 karya Al-Bani)

Wajib di sini adalah dalam menuntut ilmu agama. Adapun ilmu duniawi, tidak ada seorang pun yang berselisih tentang pentingnya ilmu tersebut, baik berupa ilmu kesehatan, ilmu perencanaan maupun ilmu lainnya yang manusia tidak mungkin terlepas darinya. Terpuruknya kaum muslimin ke dalam jurang kehinaan dan kemunduran pada masa sekarang ini tidak lain akibat kelalaian mereka dalam menuntut ilmu agama yang benar, merasa cukup dengan ilmu duniawi yang mereka ambil dari musuh-musuh mereka dalam berbagai macam aspek kehidupan, baik yang besar maupun yang kecil, banyak maupun sedikit, yang semuanya berujung kepada kebinasaan, hilangnya agama, akhlak, dan hal-hal utama lainnya.

Khatimah

Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita lihat bagaimana kehidupan generasi pertama dan terbaik dari umat ini, generasi sahabat yang hidup di bawah naungan wahyu Ilahi dan didikan Nabi. Salah seorang tokoh generasi tabi’in, Imam al-Hasan al-Bashri berkata, “Aku telah menjumpai suatu kaum dan berteman dengan mereka. Tidaklah mereka itu merasa gembira karena sesuatu yang mereka dapatkan dari perkara dunia, juga tidak bersedih dengan hilangnya sesuatu itu. Dunia di mata mereka lebih hina daripada tanah. Salah seorang di antara mereka hidup satu atau dua tahun dengan baju yang tidak pernah terlipat, tidak pernah meletakkan panci di atas perapian, tidak pernah meletakkan sesuatu antara badan mereka dengan tanah (beralas) dan tidak pernah memerintahkan orang lain membuatkan makanan untuk mereka. Bila malam tiba, mereka berdiri di atas kaki mereka, meletakkan wajah-wajah mereka dalam sujud dengan air mata bercucuran di pipi-pipi mereka dan bermunajat kepada Allah agar melepaskan diri mereka dari perbudakan dunia. Ketika beramal kebaikan, mereka bersungguh-sungguh dengan memohon kepada Allah untuk menerimanya. Apabila berbuat keburukan, mereka bersedih dan bersegera meminta ampunan kepada Allah. Mereka senantiasa dalam keadaan demikian. Demi Allah, tidaklah mereka itu selamat dari dosa kecuali dengan ampunan Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada mereka.” Wallahu A’lam.

Referensi:

  1. Qawaid wa Fawaid min Al-Arbaina An-Nawawiyah, karya Nazim Mohammad Sulthan ; cet. Ke-2. 1410; Dar-Alhijrah, Riyadh, KSA.
  2. Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
  3. Tazkiyatun-Nufus, karya Doktor Ahmad Farid ; Dar- Alqalam, Bairut, Libanon.
  4. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.

***

Penulis: Ustadz Abu Husam Muhammad Nur Huda
Dipublish ulang oleh muslim.or.id dari Majalah FATAWA